Sabtu, 15 September 2012

Pindah Alamat STNK/BPKB


Saya rasa, sebagai perempuan alangkah baiknya mengetahui hal-hal prosedural seperti ini sehingga kalau kapan-kapan harus ngurus sendiri, nggak bingung. Walaupun agak dibikin mangkel sama Samsat, saya bersyukur punya pengalaman ini.

Jadi semingguan ini saya disibukkan sama masalah perpanjang STNK/BPKB. Mulanya nunggu bude saya selaku yang namanya tertera di STNK/BPKB untuk mengirim KTP aslinya dari Jakarta. Sebenernya saya agak was-was sih, soalnya KTP bude yang baru itu alamatnya beda dengan alamat di STNK. Tapi Bude masih nyimpen fotokopi KTP lama yang alamatnya masih di rumah lama, dan beliau mengirimkan itu sekalian. Tahun lalu sempat hampir dipermasalahkan sama polisi di Samsat-nya, untungnya nggak papah dan STNK 2011 bisa diperpanjang sampai 2012. Tahun ini pun saya berusaha meredam kekhawatiran itu dan berharap agar--walaupun sempet diprotes polisinya--ujung-ujungnya bisa tetap jadi tuh STNK baru.

So, saya ke Samsat. Di pengambilan form awal (yang ada faktur pajaknya; berapa yang harus kita bayar) itu alhamdulillah baik-baik aja. Nah, pas udah di atas untuk cek berkas itu, terjadi kasusnya.

Nama bude saya dipanggil sama polisi sebagai "berkas bermasalah". Saya pun maju.

P (Polisi): "Ini fotokopi KTP-nya alamatnya beda."

S (Saya): "Iya Pak, itu fotokopi KTP yang lama, sekarang alamatnya udah pindah di KTP yang baru."

P: (nyobek fotokopi KTP lama) "Udah nggak bisa ini, udah nggak berlaku."

S: "Fotokopi KTP barunya ada kok." (buru-buru ngeluarin dan ngasih)

P: (menjepret fotokopi KTP baru itu) "Tapi ini nggak bisa diproses Mbak kalo alamatnya beda."

S: "Yah masa nggak bisa Pak? Tahun lalu bisa kok."

P: "Ya tahun lalu sampeyan saya bantu, tahun ini mau dibantu lagi, tahun depan ketemu saya lagi mau dibantu lagi?"

S: (mulai gondok dengan cara ngomongnya yang kayak gitu) "Terus gimana Pak?"

P: "Coba ke sana ke Pak Sxxxxx, minta dibantu." (nunjuk ke loket Mutasi Kendaraan dan Ganti Pemilik)

Ya udah, saya ke sana kan. Pak Sxxxxx nanya, "BPKB aslinya mana?" dan saya jawab, "Belum ada Pak, kan kreditnya belum lunas. Ini pake surat keterangan dari perusahaan leasingnya," terus beliau bales, "Kalo belum ada BPKB-nya belum bisa dipindahalamatkan."

Nyaris hopeless, saya bawa lagi berkas-berkas saya ke tempat pemeriksaan berkas, ketemu polisi yang pertama lagi.

S: "Pak, kata Pak Sxxxxx belum bisa dipindahalamatkan karena masih belum ada BPKB-nya. Terus gimana Pak?"

P: "Coba sampeyan ke perusahaan leasingnya, kasih tahu masalahnya, siapa tahu boleh pinjam BPKB-nya atau mereka mau bantu ngurus."

S: "Harus begitu ya Pak?"

P: "Ya kalo sampeyan nggak mau begitu mending sampeyan pulang aja, sekolah, kerja, tidur."

Ebuset sumpah kok jadi nyebelin gitu si polisi ini. Ilfeel, saya turun dan langsung ke perusahaan leasing yang jauh banget tempatnya dari sini. Di sana saya ceritain masalahnya, tapi kata satpamnya ya mereka nggak bisa ngapa-ngapain. Mana boleh BPKB-nya dipinjem sementara?

Makin jengkel, saya ke pom bensin untuk ngisi bensin, habis itu ke minimart di sana. Saya telepon bude saya sang empunya motor, ceritain gimana-gimananya. Nggak ada jalan lain kecuali harus melunasi dulu kreditnya. Rada nggak enak sih saya, soalnya masih 10x lagi. Kan lumayan juga jumlahnya. Tapi kata bude ya udah gapapa, daripada tahun-tahun depan tersangkut kasus lagi, mending selesain sekarang sekalian.

Besoknya bude transfer uang untuk melunasi. Di kafe deket kampus, saya nelpon customer service perusahaan leasing, nanya gimana prosedur untuk pengambilan BPKB kalau bukan ybs yang mengambil. Kan harus pake surat kuasa dll. Habis itu saya menghubungi bude saya lagi ngasih tahu syarat-syaratnya. Harus nunggu dulu sampe surat kuasanya nyampe kemari baru saya ke perusahaan leasing untuk menyelesaikan pembayaran dan pengambilan BPKB.

Hari Jumat kemarin kuliah saya kelar jam 10 pagi. Langsung ngebut nyiapin segala macem keperluan pengambilan BPKB termasuk narik uang pelunasan terakhir, setelah itu segera cabut ke perusahaan leasing. Untung sempat dilayani sebelum perusahaan leasingnya tutup Jumatan.

Karena saya kuliah lagi jam setengah 3, saya memutuskan ke Samsat-nya besok aja (hari ini). Tadi pagi saya ke Samsat, berharap segalanya lancar dan dimudahkan.

Oke, ini beberapa catatan saya untuk soal pindah alamat STNK/BPKB:

1. Sediain lima fotokopi BPKB, STNK, tanda bayar pajak STNK, dan KTP, terus distapler masing-masing satu. Kalo bisa sediakanlah sebelum ke Samsat, soalnya harga fotokopi di Samsat mahal banget. -___- Tentu jangan lupa bawa semua berkas yang asli.

2. Sediain stopmap sendiri. Warnanya terserah.

3. Bawa stapler sama pulpen sendiri. Just in case.

4. Setelah ngambil faktur pajak di loket pendaftaran, sebelum naik, cek fisik kendaraan dulu. Habis itu lembar cek fisiknya difotokopi satu biji.

5. Lima fotokopian tadi, plus lembar cek fisik dan fotokopinya, dimasukin ke stopmap, terus dibawa ke tempat ambil formulir untuk pindah alamat/mutasi kendaraan. Nanti kita dikasih stopmapnya lagi yang udah ditempelin macem-macem. Biayanya Rp10.000,-.

6. Langsung ke loket Mutasi Kendaraan/Ganti Pemilik. Serahin stopmap dan tunggu dipanggil.

7. Jangan melakukannya pada hari Sabtu karena STNK barunya akan ditunda sampe hari Senin. =____________=


Oke, poin ketujuh itu yang bener-bener bikin saya gondok. Udah diputer-puter naik turun, digodain petugas, ngeluarin biaya mahal dan jadi antipati sama polisi... eh tahunya diakhiri dengan kalimat "Hari Senin ya Mbak." Gubrak banget nggak sih?

Jadi begitulah saudara-saudara, saya terpaksa menghabiskan my weekend ini tanpa STNK dan harus ke Samsat lagi hari Senin.

Ohmai, ohmai. =____=

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar